Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

Nihayatul Wafiroh Kunjungi Dwi Josi dan Keluarganya

Berita Utama
Nihayatul Wafiroh Kunjungi Dwi Josi dan Keluarganya
PKBNews - ANGGOTA Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dr. Nihayatul Wafiroh tergerak hatinya untuk menemui langsung Dwi Josi (14 tahun) yang mengalami kelainan kelamin sejak lahir. 
 
Keinginan Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR itu akhirnya kesampaian. Mbak Ninik -- begitu sapaan akrab Nihayatul Wafiroh -- bersama tim-nya berkesempatan mengunjungi Dwi Josi di rumahnya di Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa, 8 Agustus 2017 lalu. 
 
Dwi Josi tinggal bersama ibu kandungnya yang single parent di rumah yang sangat sederhana. Selain Dwi Josi dan ibunya, kakek dan neneknya Dwi Josi yang sudah tua renta pun tinggal bersama di dalam rumah yang apa adanya itu. 
 
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ibu Dwi Josi berdagang kopi dan ketan mengemper di pinggir jalan, tidak jauh dari kediamannya. Berdagang kopi dilakoninya setiap malam hingga pagi buta. "Sekadar untuk memenuhi kehidupan sehar-hari. Ya, hanya ini yang saya bisa lakukan," kata Ibu Dwi Josi dengan mata berbinar-binar menahan kesedihan. 
 
Kedatangan Mbak Ninik yang tiba-tiba, membuat Ibu Dwi Josi sedikit terkejut. Ia tidak menyangka seorang anggota DPR menyempatkan waktu untuk mengunjunginya. Mbak Ninik pun merasa terharu, karena kedatangannya disambut dengan hangat, kekeluargaan dan penuh senyum. 
 
Beberapa menit setelah pertemuan, Ibu Dwi Josi pun menceritakan kisah pilu anaknya dengan gamblang, lugas dan apa adanya. Garis-garis kesedihan dan kepasrahan pun seperti menempel di wajah ibu Dwi Josi. 
 
Menurut Mbak Ninik, cerita yang paling menyesakan dada adalah ketika Josi meminta ibunya untuk mengubah kelaminnya. "Bu aku ini sebenernya laki-laki, aku nggak mau jadi perempuan," demikian diungkapkan Ibu Dwi Josi menceritakan keluhan anaknya dengan mata berkaca-kaca seperti menahan kesedihan. 
 
"Kami yang mendengarkannya pun ikut terbawa suasana kesedihan," kata Mbak Ninik. 
 
Seperti diketahui khalayak dan media massa bahwa Josi yang sejak lahir tidak memiliki anus dan alat kelamin, saat bayi sebenarnya secara hormonal oleh dokter dikategorikan sebagai laki-laki. Akan tetapi dengan kondisi kelaminnya yang tidak berbentuk, dokter pun menganjurkan agar kelamin perempuan saja yang lebih mudah membentuk kelak ketika sudah bisa dioperasi. 
 
Atas saran dokter itu pula, akhirnya ketika Josi masuk sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) oleh si Ibu dijadikanlah Dwi Josi sebagai anak perempuan. Namun, beriring dengan berjalannya waktu, setelah usia 14 tahun, tepatnya beberapa bulan lalu, Dwi  Josi mengungkapkan isi hati dan unek-uneknya kepada si Ibu bahwa dirinya sesungguhnya adalah laki-laki dan karena itu ingin menjadi laki-laki dan bukan menjadi perempuan. 
 
Tergopoh si Ibu - yang selama ini berjuang sendirian memenuhi kebutuhan pempers dan cairan natrium klorida untuk Josi - menemui guru Sekolah dasar (SD) Dwi Josi yang tidak jauh dari kediamannya. 
 
Mendengar cerita dari ibunya Dwi Josi, guru SDnya Dwi Josi -- yang selama ini tidak tahu-menahu kondisi kelamin Josi pun kaget bukan kepalang, mendengarkan cerita si Ibu. 
 
Dan beruntungnya guru-guru juga teman-temannya di sekolah mendukung sangat keinginan Josi, dan bahkan mereka lebih respek kepada Dwi Josi karena mereka mengetahui lebih banyak keterbatasan Dwi Josi. Merekapun dengan cepat beradaptasi dengan Dwi Josi yang kini sebagai laki-laki dan berpakaian laki-laki dan bahkan permainannya pun permainan laki-laki seperti sepakbola.  
 
Menurut Mbak Nini, persoalan yang kini dihadapi Dwi Josi dan Ibunya adalah  keinginannya untuk segera melakukan operasi kelamin (laki-laki) Josi. Hal itu, tentu saja selain membutuhkan biaya yang cukup besar, pun terbentur masalah persyaratan berat badan Jossi yang harus 20 kg, hingga usia 14 tahun tidak pernah terpenuhi. 
 
Mendengar itulah, Mbak Ninik pun seketika bergegas dan kemudian mengangkat Smartphone-nya. Anggota Komisi IX DPR yang salah saunya bermitra dengan Kementerian Kesehatan ini kemudian menghubungi direktur RS dr.Soetomo Surabaya untuk mengkonsultasikan kondisi dan harapan keluarga Dwi Josi. 
 
"Ya Allah bu, ini seperti mukjizat, terima kasih ibu," kata ibu Dwi Josi dengan muka merah dan mata berkaca-kaca mendengarkan percakapan Mbak Ninik dengan dokter di telepon. 
 
Mbak Ninik pun bergerak cepat dan langsung meminta kepada ibu Dwi Josi berkas administrasi dan rekam medis anaknya. 
 
"Saya kontak berbagai pihak untuk memastikan semua pihak bergerak cepat membantu Josi dan keluarga. Saya hubungi dinas sosial untuk memastikan keluarga Josi mendapat bantuan meringankan kebutuhan pempers dan cairan natrium klorida. Saya dan tim juga sedang mencari cara untuk mengubah akta lahir dan identitas Josi dari perempuan ke laki-laki," kata anggota DPR Daerah Pemilihan Jatim III (Banyuwangi - Bondowoso - Situbondo) ini.
 
Tentu saja, kabar baik yang langsung dilihat Dwi Josi dan ibunya ini pun disambut gembira. Wajah Dwi Josi nampak berseri-seri karena masih ada harapan yang akan diraihnya, terkait kondisinya.
 
Mbak Ninik pun tersenyum sumringah. Ia merasa lega karena paling tidak bisa membantu meringankan Dwi Josi dan keluarganya lepas dari persoalan yang dihadapinya. 
 
Mbak Ninik pun teringat pesan kebajikan bahwa "Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya".
 
Sore itu pun, di rumah yang sangat sederhana itu, Anggota FPKB DPR itu menyaksikan Dwi Josi akan berangkat mengaji. "Saya melihat optimisme di wajah Dwi Josi. Karenanya PR ke depan setelah Dwi Josi dioperasi adalah memastikan pendidikannya dan mewujudkan cita-citanya. Semoga dengan bantuan semua pihak segala harapan Josi dan keluarga bisa terwujud," kata Mbak Ninik dengan pandang mata yang tampak berkaca-kaca.