Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

F-PKB Sayangkan Sikap Pemerintah Terkait Produksi Migas

Berita Parlemen
F-PKB Sayangkan Sikap Pemerintah Terkait Produksi Migas

Jakarta - SIKAP pemerintah yang pesimistis dalam mematok target produksi terjual atau lifting minyak dan gas bumi (migas) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 sangat disayangkan.

"Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa menyayangkan sikap pemerintah yang tidak optimistis dalam menaikkan produksi migas. Dimana, dalam RAPBN 2016 tertulis target lifting minyak dipatok 830.000 barrel per hari (bph), sedang lifting gas dipatok 1,155 juta barrel setara minyak per hari," kata Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Syaiful Islam dalam penyampaian pandangan F-PKB atas RAPBN 2016 dan nota keuangan dalam rapat paripurna, Kamis (20/8).

Menurut Syaiful, target lifting migas tersebut tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan APBNP 2015. Adapun soal asumsi harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) yang dipatok 60 dollar AS per barrel. "Pemerintah harusnya juga memperhatikan perkembangan geopolitik produsen minyak dunia," katanya.

Selain menyoroti soal lifting migas, kata Syaiful, F-PKB turut memberikan pandangan terhadap asumsi makro ekonomi dalam RPABN 2015. F-PKB menilai pemerintah optimistis dalam mematok target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan 5,5 persen. Hal tersebut dikarenakan ekonomi pada tahun ini diperkirakan maksimal tumbuh 5 persen.

"Kami memprediksi pertumbuhan ekonomi 2016 bergerak di 5,3 persen – 5,5 persen. Oleh sebab itu, pemerintah harus menjadi lokomotif pertumbuhan," katanya.

Kata Syaiful, F-PKB meminta pemerintah untuk menjaga ekspektasi inflasi, dari target inflasi yang ditetapkan dalam RAPBN 2016 di level 4,7 persen. Diperlukan sinergi kebijakan dari pemerintah dan Bank Indonesia.

"Potensi inflasi tahun depan masih datang dari komponen inti dan harga bergejolak. Pemerintah perlu menjaga ketersediaan dan distribusi pangan, serta melakukan perbaikan sistem logistik nasional," katanya.

Terkait nilai tukar, ungkap Syaiful, F-PKB berpandangan pemerintah dan BI serta Otoritas Jasa Keuangan harus melakukan usaha keras untuk mencapai target Rp 13.400 per dollar AS. Hal tersebut ia sampaikan mengingat, saat ini saja nilai tukar sudah bergerak mendekati Rp 14.000 per dollar AS.

"Di sisi lain, suku bunga SPN 3 bulanan yang dipatok 5,5 persen juga harus dijaga dengan memperhatikan ekses dari kenaikan suku bunga Federal Reserves. Lebih dari asumsi makro, pemerintah juga harus memperhatikan indikator kesejahteraan yang terdiri dari tingkat pengangguran 5,2-5,5 persen, tingkat kemiskinan 9-10 persen, dan indeks kesenjangan atau rasio gini 0,39. Ini wajib tercapai," tandasnya.