Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

Ancaman Harga Cabai terhadap Kehidupan Bernegara

Opini
Ancaman Harga Cabai terhadap Kehidupan Bernegara
Oleh: Abdul Kadir Karding
 
KEDAULATAN sebuah bangsa ditentukan oleh kedaulatan pangannya. Dan cabai menjadi salah satu elemen penting dalam ragam pangan bangsa kita. Guratan sejarah menunjukkan beragam bukti betapa cabai telah membentuk kreativitas kuliner orang Indonesia. Pedasnya cabai hampir selalu hadir dalam berbagai masakan.
 
Untuk membuat rendang kita butuh cabai, dendeng balado butuh cabai, pecak ikan gurame betawi butuh cabai, ayam taliwang butuh cabai, sambal bakso atau mie ayam butuh cabai. Singkat kata cabai ada dalam sayuran yang kita makan, lauk pauk, hingga aneka rupa sambal. Tak berlebihan jika ada pameo yang mengatakan makan tanpa sambal terasa belum lengkap.
 
Meski telah mengakrabi lidah orang Indonesia, cabai yang kita kenal sekarang bukanlah tanaman asli Indonesia. Tumbuhan bernama latin Capsicum annuum ini berasal dari Amerika Selatan. Cabai menyebar ke berbagai belahan dunia setelah penjelajah asal Spanyol Christoper
Columbus melempar jangkarnya di sekitar perairan Amerika Latin.
 
Di Nusantara cabai dibawa oleh para pelaut Portugis. Selain cabai mereka juga mengenalkan aneka tanaman lain seperti tomat, seledri air, nanas, pepaya, dan ubi jalar.
 
Cabai kaya akan manfaat. World’s Healthiest Foods melaporkan sebuah penelitian yang menyatakan rasa panas dan pedas pada cabai dapat menghentikan penyebaran sel-sel kanker prostat. Cabai juga mengandung beta karoten atau pro vitamin A dan vitamin C yang penting bagi kesehatan pencernaan, paru-paru, daya tahan tubuh, dan saluran pencernaan.
 
Tapi percayalah, bukan lantaran itu cabai digemari oleh orang Indonesia. Cabai digemari justru karena citarasa pedasnya yang unik. Pedas cabai hanya berefek di mulut tapi tidak membuat perut panas sebagaimana halnya paprika atau lada. Itulah mengapa cabai kerap
menjadi pilihan dalam setiap racikan kuliner Nusantara bernuansa pedas.
 
Tak mengherankan jika polling CNN pada Februari 2016 lalu menempatkan sambal di urutan pertama makanan Indonesia yang paling tidak bisa ditinggalkan. Di Indonesia setidaknya terdapat sekitar puluhan jenis aneka sambal. Sementara rendang yang bumbu utamanya berbahan dasar cabai masuk dalam daftar makanan terenak di dunia menurut polling CNN.
 
Sayangnya, hari ini menikmati cabai tak lagi bisa senikmat hari-hari sebelumnya. Harga cabai meroket tajam hingga lebih dari 100 persen. Di Jakarta, Malang, Bogor, Bekasi cabai rawit merah dijual dengan harga Rp 120 ribu. Sedangkan di Sampit dan Palangkaraya cabai rawit merah dijual hingga Rp 150 ribu.
 
Pemerintah mengatakan lonjakan harga cabai terjadi karena cuaca buruk yang terjadi di sentra-sentra produksi. Para petani mengalami gagal panen karena banyak cabai membusuk. Di saat bersamaan permintaan terhadap cabai semakin tinggi. Di sinilah berlaku hukum ekonomi permintaan (demand) yang lebih tinggi dibandingkan penawaran (supply)
membuat harga meroket tajam.
 
Argumentasi pemerintah bahwa cuaca adalah biang keladi kenaikan harga cabai sebenarnya terbilang klise. Mengapa? Sebab pola cuaca berlangsung saban tahun. Mestinya bisa diantisipasi. Caranya dengan merangkul dan mengedukasi para petani cabai dalam bercocok tanam. Para petani perlu dibantu menanam cabai dengan pola melawan musim.
 
Selain faktor cuaca ada juga spekulasi yang mengatakan harga cabai meroket karena permainan kartel. Konon ada mafia cabai yang sengaja menahan distribusi untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Spekulasi ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab meski harga cabai meroket faktanya para petani cabai tidak menikmati keuntungan secara langsung.
 
Pemerintah dan pengamat boleh saja berspekulasi soal beragam sebab melonjaknya harga cabai. Tapi sepertinya masyarakat tidak akan ambil peduli terhadap beragam argumen itu. Sebab yang lebih dipedulikan dan dibutuhkan masyarakat adalah solusi persoalan.
 
Pembiaran secara terus-menerus terhadap kenaikan harga cabai bukan tak mungkin memberi dampak simultan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Harga cabai yang mahal misalnya akan membuat orang malas membuat olah kuliner nusantara berbahan dasar cabai. Kalau terus-menerus begini bukan tak mungkin sejumlah kuliner khas Nusantara yang
menjadi kebanggan kita akan punah oleh waktu.
 
Di sisi lain lonjakan harga cabai juga bisa mengganggu perekenomian negara. Kita tahu, selain diolah oleh para ibu rumah tangga, cabai juga dimanfaatkan para pedagang kecil seperti warung makan, pedagang bakso, penjual mie ayam, pemilik warteg, dan pedagang gorengan.
 
Mahalnya harga cabai berpotensi menggangu omzet penjualan yang bukan tak mungkin mengganggu kelangsungan usaha mereka. Padahal kita tahu merekalah sesungguhnya pelaku ekonomi riil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.
 
Pada akhirnya pedasnya harga cabai musti disikapi secara serius dan seksama oleh pemerintah. Persoalan ini tidak kalah penting dari isu makar dan hoax yang beredar. Harapan kita masyarakat bisa kembali ceria menikmati pedasnya cabai baik dalam bentuk sambal maupun aneka olahan kuliner lainnya.
 
 
Abdul Kadir Karding 
Sekretaris Jenderal DPP PKB Periode 2014-sekarang. Anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mewakili Jawa Tengah. Saat ini menjabat sebagai anggota Komisi III DPR RI. Alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang tahun 1997.